Chivefest.com – Dalam beberapa tahun terakhir, genre romantis-komedi (rom-com) sempat kehilangan gaungnya di antara dominasi film superhero, thriller, dan aksi berat. Namun, Anyone But You, film rom-com rilisan 2023 yang dibintangi oleh Sydney Sweeney dan Glen Powell, berhasil menghidupkan kembali semangat genre ini.
Film ini bukan hanya sukses secara komersial tetapi juga membuka diskusi tentang dinamika cinta modern, chemistry aktor, dan bagaimana genre klasik bisa dikemas ulang dengan gaya kekinian.
Sinopsis Singkat: Dari Benci Jadi Cinta Anyone But You
Anyone But You bercerita tentang Bea (diperankan oleh Sydney Sweeney), seorang mahasiswa hukum cerdas yang memiliki masa lalu yang rumit, dan Ben (diperankan oleh Glen Powell), pria tampan dan arogan yang kerap membuat kesal orang di sekitarnya.
Keduanya sempat memiliki hubungan pendek namun penuh kekacauan. Takdir kembali mempertemukan mereka dalam pernikahan seorang teman di Australia. Demi menyelamatkan situasi sosial yang canggung dan tekanan keluarga, mereka berpura-pura menjadi pasangan. Dari sinilah, kebencian lama berubah menjadi ketertarikan, dan akhirnya menjadi cinta sejati.
Chemistry yang Melejit antara Sweeney dan Powell
Salah satu faktor kunci dari keberhasilan film ini adalah chemistry antara dua pemeran utamanya. Sydney Sweeney, yang dikenal lewat perannya di Euphoria, menunjukkan sisi yang lebih komedik dan ringan di film ini, sementara Glen Powell—dikenal lewat Top Gun: Maverick—memerankan sosok pria cuek namun memikat.
Interaksi mereka terasa alami, mengingatkan penonton pada pasangan ikonik rom-com era 90-an seperti Julia Roberts dan Hugh Grant. Beberapa kritikus bahkan menyebut bahwa Sweeney dan Powell memiliki potensi menjadi pasangan layar lebar generasi baru.
Anyone But You Pengaruh Film Rom-Com Era 90-an
Tak bisa dipungkiri bahwa Anyone But You banyak mengambil inspirasi dari film-film rom-com klasik seperti 10 Things I Hate About You, How to Lose a Guy in 10 Days, dan Notting Hill.
Dari struktur cerita hingga dialog yang witty dan situasi komedi yang berlapis-lapis, film ini menyajikan nostalgia bagi pecinta genre lawas, tetapi juga memberikan sentuhan kontemporer lewat penggunaan teknologi, referensi budaya pop modern, dan representasi hubungan yang lebih egaliter.
Bahkan soundtrack film ini pun memuat lagu-lagu pop upbeat dan balada romantis ala tahun 2000-an yang menambah nuansa klasik.
Setting Australia: Pemandangan Indah sebagai Pelengkap Romansa
Berbeda dengan banyak rom-com Hollywood yang berlokasi di New York atau Los Angeles, Anyone But You memilih Australia sebagai latar utama. Ini bukan hanya menjadi faktor estetika, tetapi juga memberikan dimensi baru pada cerita.
Latar pantai, villa tepi laut, dan kota Sydney yang dinamis menciptakan suasana yang segar dan eksotis. Adegan-adegan komedi maupun emosional jadi terasa lebih hidup berkat pemilihan lokasi yang visualnya memanjakan mata.
Alur Cerita Anyone But You yang Familiar namun Menghibur
Secara garis besar, alur cerita film ini cukup linear dan bisa ditebak, seperti kebanyakan film rom-com. Namun, kekuatan film ini terletak pada bagaimana setiap adegan disusun untuk memaksimalkan humor dan romantisme tanpa terasa berlebihan.
Adegan-adegan seperti pertengkaran di pesta, kecanggungan saat berdekatan, hingga momen pengakuan cinta di tengah konflik berhasil dieksekusi dengan rapi dan tidak terkesan klise. Penonton justru dibuat merasa akrab dengan struktur tersebut dan lebih menikmati prosesnya.
Dialog Cerdas dan Komedi Situasional
Dialog dalam Anyone But You sangat khas rom-com modern—cepat, cerdas, dan sarat sarkasme. Penulis naskah berhasil meramu humor yang tidak terlalu slapstick tetapi juga tidak terlalu intelektual, menjadikannya mudah dicerna oleh semua kalangan.
Komedi situasional dalam film ini juga cukup menonjol, seperti saat karakter utama harus tidur sekamar atau berakting mesra di depan orang tua padahal sebenarnya sedang bertengkar hebat. Hal-hal ini menciptakan momen lucu yang memorable dan mengundang tawa.
Karakter Pendukung yang Menghidupkan Cerita
Selain Bea dan Ben, film ini juga diisi oleh karakter pendukung yang kuat. Dari orang tua yang super protektif hingga teman-teman yang kepo dan penuh intrik, semua karakter tersebut tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi punya kontribusi terhadap dinamika cerita.
Karakter seperti saudara tiri yang ikut campur dan sahabat yang jujur-blak-blakan membuat film terasa hidup dan penuh warna. Keberadaan mereka juga menjadi katalis yang mendorong perubahan karakter utama secara emosional.
Pesan Moral dan Representasi Cinta Anyone But You Masa Kini
Meskipun film ini dibungkus dengan tawa dan adegan romantis, Anyone But You juga memuat beberapa pesan penting. Pertama, soal komunikasi dalam hubungan—bagaimana banyak masalah muncul karena asumsi dan kurangnya keterbukaan.
Kedua, film ini memperlihatkan bahwa perbedaan kepribadian bukan alasan untuk saling menjauh, tapi bisa menjadi kekuatan jika ada rasa saling menghargai. Ketiga, representasi cinta masa kini tidak melulu tentang gender atau status sosial, melainkan tentang kesetaraan dan kemauan untuk berubah demi kebaikan bersama.
Respons Kritikus dan Penonton Global
Secara umum, Anyone But You mendapat respons yang cukup positif dari kritikus dan audiens. Di situs agregator Rotten Tomatoes, film ini mendapat skor yang solid, menunjukkan bahwa rom-com masih punya tempat di hati penonton.
Banyak penonton memuji bahwa film ini adalah “angin segar” di tengah dominasi genre berat. Bahkan beberapa menyebutnya sebagai “rom-com terbaik dalam satu dekade terakhir.” Popularitas film ini juga meningkat berkat promosi intensif dan viralitas cuplikan adegannya di media sosial, khususnya TikTok dan Instagram Reels.
Kesuksesan Box Office dan Dampaknya terhadap Industri
Dilaporkan bahwa Anyone But You mencetak keuntungan besar dengan bujet yang relatif kecil untuk ukuran Hollywood. Ini menjadi indikator bahwa film romantis tidak perlu efek CGI mahal atau adegan laga besar untuk menarik penonton.
Keberhasilan finansial film ini mendorong studio-studio lain untuk kembali melirik genre rom-com yang selama ini dipinggirkan. Ada harapan bahwa film seperti ini bisa membuka jalan bagi produksi rom-com berkualitas di masa depan, baik di Hollywood maupun industri film global lainnya, termasuk Indonesia.
Perbandingan dengan Film Sejenis di Era Digital
Di era digital dan streaming saat ini, film rom-com kerap dirilis eksklusif di platform seperti Netflix dan Amazon Prime. Namun Anyone But You membuktikan bahwa rom-com masih bisa sukses di bioskop.
Dibandingkan dengan To All the Boys I’ve Loved Before atau Set It Up yang dirilis via streaming, Anyone But You punya keunggulan dalam skala produksi dan cinematography. Ini menunjukkan bahwa genre ini bisa fleksibel dan tetap relevan baik di platform digital maupun layar lebar.
Dampak Budaya Pop dan Fanbase
Salah satu indikasi sukses film adalah sejauh mana ia menembus budaya pop. Anyone But You berhasil menciptakan tren tersendiri di media sosial. Kutipan dialog, gaya berpakaian tokoh utama, hingga soundtrack film menjadi bahan konten viral.
Fanbase film ini, khususnya remaja dan dewasa muda, membuat meme, fan edit, hingga diskusi karakter di Reddit dan TikTok. Kehebohan ini mirip dengan efek budaya yang dulu diciptakan oleh The Notebook atau 500 Days of Summer.
Kemungkinan Sekuel atau Spin-off Anyone But You
Melihat antusiasme penonton, tidak menutup kemungkinan bahwa film ini akan berlanjut dalam bentuk sekuel atau spin-off. Meskipun kisah Bea dan Ben sudah diselesaikan dengan manis, ada ruang narasi bagi karakter lain untuk berkembang.
Misalnya, cerita sahabat mereka yang juga memiliki konflik tersendiri. Studio juga bisa mengeksplorasi kisah cinta di dunia yang sama dengan gaya dan pasangan yang berbeda, seperti tren cinematic universe di genre lain.
Anyone But You: Kemenangan Rom-Com Modern
Anyone But You adalah bukti bahwa genre rom-com belum mati. Justru dengan pendekatan modern, aktor muda berbakat, dan penulisan naskah yang cerdas, rom-com bisa kembali menjadi genre yang relevan dan dicintai.
Film ini bukan hanya menyegarkan, tetapi juga menyentuh, membuat kita tertawa dan sekaligus percaya bahwa cinta, seaneh dan serumit apa pun bentuknya, selalu menemukan jalannya. Dan mungkin, seperti Bea dan Ben, kita semua juga pernah mengalami cinta yang datang justru dari orang yang awalnya “paling kita benci.”
